Pages

Rabu, 30 Oktober 2019

Pendidikan Karakter: Tonggak Keberhasilan Pendidikan Generasi Milenial



Saat ini dunia telah memasuki revolusi industri dunia ke-4 atau sering disebut dengan Revolusi industri 4.0. Revolusi industri tersebut secara tidak langsung mempengaruhi segala aspek kehidupan. Salah satunya ialah pendidikan. Termasuk pendidikan yang ada di Indonesia. Saat ini telah populer sistem pendidikan berbasis E-Learning. Proses pembelajaran serta interaksi sosial, banyak terjadi melalui media online.
Fenomena tersebut tidak bisa terelakan, lebih-lebih dengan kebutuhan generasi milenial yang semakin komplek. Tekhnologi seakan-akan telah menjadi nadi kehidupan bagi generasi ini. Bahkan interaksi sosial yang seharusnya terjadi di dunia nyata, sering dilakukan lewat media online. Misalnya, belajar kelompok, diskusi pembelajaran bahkan bermain-main melalui grup chat WA.
Banyak sekali efek negatif yang di timbulkan oleh perkembangan yang terlampau pesat ini apabila tidak ada kontrol dari berbagai pihak. Misalnya, anak yang kecanduan game online sebagai akibat dari peran orang tua yang terus menerus memberikan fasilitas untuk bermain. Anak-anak di bawah umur yang terlanjur kecanduan film film porno karena kurangnya kontrol dari lingkungan sekitar dan masih banyak lagi.
Era industri 4.0 ini melahirkan generasi milenial yang dituntut untuk tangguh karena persaingan global yang semakin ketat. Tidak hanya dalam segi iptek, akan tetapi karakter yang di tanamkan harus kuat serta bermoral. Menurut penelitian, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yaitu banyaknya usia produktif daripada yang non produktif. Hal ini sangat menguntungkan Indonesia untuk meningkatkan kualitasnya. Segalanya, ada di tangan generasi milenial saat ini. Karena merekalah yang akan memimpin Indonesia pada saat itu.
Penekanan pendidikan serta peningkatan mutu pendidikan sangatlah penting untuk menunjang segala hal tersebut. Lebih-lebih penanaman karakter yang disiplin, jujur, smart, tangguh, dan juga peduli harus di pupuk dan juga di perkuat. Hal tersebut tidak lain untuk mendukung keterampilan 4C (Critical Thinking, Colaboration, Communication, Creative) yang wajid dimiliki generasi milenial.
Suyitno (2012) menjelaskan bahwa pendidikan karakter dapat diartikan sebagai bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas sifat, tabiat, tempramen dan watak. Jadi, dapat di simpulkan bahwa setiap peserta didik yang tidak mengikuti kaidah moral yang berlaku di masyarakat bisa dikatakan memiliki karakter buruk. Misalnya suka mencuri, tidak jujur dan lain-lain. Apabila siswa atau anak didik mengikuti apa yang telah d atur dalam kaidah moral yang berlaku, maka bisa dikatakan siwa ini adalah siswa yang baik.
Maka, lebih sinergi dari berbagai pihak antara guru, wali murid serta pemerintah harus berjalan beriringan serta memiliki visi misi yang sama. Tujuannya tidak lain adalah untuk mewujudkan cita-cita pendidikan nasional yang membentuk generasi yang beriman serta berakhlakul karimah. Karena di tangan merekalah masa depan Indonesia.
Pembiasaan pendidikan karakter harus dilakukan dari hal yang terkecil, misalnya dengan membuat program yang matang. Program yang telah ada di sekolah misalnya 3S (Senyum, salam, sapa) yang telah berjalan wajib di pertahankan. Contoh lainnya adalah membiasakan memungut sampah menemukan atau menjenguk teman ketika sakit. Program seperti ini harus di tanamkan dengan kuat oleh sekolah demi terwujudnya karakter yang baik dari siswa.
Selain itu, harus ada alat ukur yang tepat. Saat ini masih sangat jarang sekolah yang memiliki catatan perilaku siswa. Padahal dengan mencatat perkembangan perilaku siswa, pihak sekolah dapat mengetahui perkembangan karakter dari siswa. Hal ini dapat di ukur melalui observasi langsung atau melalui kuisioner. Tujuannya ialah untuk mengetahui sejauh mana perkembangan karakter dari siswa tersebut.
 Penanaman karakter tersebut tidak akan dapat berjalan dengan baik apabila tidak ada contoh konkret bagi siswa. Maka dari itu, guru harus berperan aktif dalam memberikan contoh yang baik bagi siswa. Misalnya dengan sikap disiplin mulai dari tidak telat masuk kelas dan ibadah tepat waktu.karakter siswa lebih mudah terbentuk dari apa yang mereka lihat. Bukan dari apa yang mereka dengarkan misalnya lewat nasihat atau ceramah.
Pendidikan dan tekhnologi tidak dapat lagi terpisahkan. Maka dari itu, penguatan karakter siswa melalui hal-hal sederhana sangatlah penting. Hal ini bertujuan sebagai pagar yang membatasi perilaku dari siswa. Agar mereka dapat dengan bijak memanfaatkan perkembangan teknologi.

Senin, 28 Oktober 2019

Permainan Tradisional Membentuk Karakter Pejuang Generasi Milenial



Masa balita  merupakan masa keemasan. Pada masa ini, masa depan seseorang akan di tentukan. Apakah orang ini akan menjadi pribadi yang tangguh ataupun yang kurang tangguh. Menurut penelitian yang di lakukan ahli Perkembangan dan Perilaku anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan pada masa balita perkembangan otak berjalan sangat cepat hingga 80 persen. pada usia tersebut otak dengan sangat cepat menerima dan menangkap informasi tanpa melihat baik atau buruk. Dan pada masa inilah segala aspek afektif, kognitif dan psikomotor di bentuk dengan sangat cepat.

Pada masa ini, orang tua berperan besar dalam pembentukan karakter. Maka dari itu, hendaknya dapat memanfaatkan sebaik mungkin dengan memberikan pendidikan untuk membentuk karakter bagi anak. Pendidikan karakter anak dapat dilakukan dengan cara yang sederhana misalnya membiasakan berdoa sebelum makan, memberikan pengertian tentang keagamaan secara sederhana misalkan ibadah tepat waktu.

Namun, pada masa modern seperti saat ini tantangan yang di hadapi semakin kompleks. Anak-anak yang seharusnya masih bermain dengan teman sebayanya, saat ini cenderung anti sosial karena lebih asik bermain dengan handphone. Perkembangan teknologi yang super cepat ini menjadikan mayoritas orang tua memilih jalan instan untuk membahagiakan buah hati mereka. Dengan memberikan ponsel dengan dalih “Yang penting diam, ndak nangis”. Pendidikan semacam ini kurang tepat dilakukan kepada anak-anak karena akan membentuk karakter mereka yang pemalas dan psikomotoriknya yang kurang terlatih.

Salah satu cara lain yang dirasa cukup efektif untuk membentuk karakter anak ialah dengan mengembangkan kembali permainan tradisional yang mulai pudar. Ashibily (2003) menyatakan bahwa banyak sisi positif yang bisa didapatkan dari permainan tradisional di Indonesia, antara lain 1) Pemanfaatan bahan-bahan permainan yang berasal dari alam dan 2) memiliki hubungan erat dalam melahirkan penghayatan terhadap kenyataan hidup manusia.

Dalam pendapat lain  I Wayan Tarna (2015) dalam studinya yang berjudul Peranan Permainan Tradisional dalam Pendidikan memaparkan bahwa permainan tradisional dapat meningkatkan berbagai aspek perkembangan anak, antara lain (1) aspek motorik yang dapat melatih daya tahan, daya lentur, sensori-motorik, motorik kasar, dan motorik halus; (2) aspek kognitif yang dapat mengembangkan imajinasi, kreativitas, problem solving, strategi, antisipatif dan pemahaman kontekstual; (3) aspek emosi mampu mengasah empati, pengendalian diri dan katarsis emosional; dan (4) aspek bahasa dapat mengembangkan pemahaman konsep-konsep nilai. Hal ini menunjukan bahwa selain meningkatkan ketangkasan motorik, permainan tradisional dapat meningkatkan aspek kognitif serta afektif.

Salah satu contoh ialah permainan Gobak Sodor. Dalam permainan tersebut ketiga aspek pengetahuan meliputi kognitif, afektif serta psikomotorik dapat di latih. Di perlukan perhitungan yang cermat untuk menghadang atau melewati musuh (Kognitif). Di perlukan kerjasama antar kawan untuk menghadang atau melewati musuh (Afektif). Dan di butuhkan ketangkasan untuk berlari atau menangkap lawan (Psikomotorik). Dan masih banyak lagi permainan tradisional yang dapat membentuk karakter yang kuat.

Maka dari itu, pembentukan karakter melalui permainan tradisional merupakan jawaban dari semakin kompleks masalah merosotnya karakter generasi milenial. Lebih-lebih kepada anak usia dini. Mereka seharusnya tidak diberikan asupan gadget yang terlalu berlebihan. Pengenalan dengan permainan-permainan tradisional harus di galakkan oleh baik dari prang tua maupun sekolah. Dengan pembudayaan permainan tradisional, selain menjaga tradisi dan pelestarian kekayaan Indonesia dapat sekaligus membentuk karakter pejuang kepada generasi penerus bangsa.

Selasa, 22 Oktober 2019

Bencana: Teguran Nyata Disaat Kelalaian Merajalela


Akhir-akhir ini kemelut semakin banyak terjadi melanda Ibu Pertiwi. Belum lama rasanya kebakaran hutan Kalimantan dan Sumatera melanda yang merugikan berbagai aspek kehidupan. Belum lupa pula masalah sosial demonstrasi yang menuntut tidak di sahkannya RUU yang katanya banyak merugikan masyarakat. Saat ini Ibu Pertiwi kembali berduka dengan terbakarnya gunung-gunung di Jawa Timur serta bencana angin ribut di Kota Batu(20/10).
Bencana ini seakan tidak terekspose oleh media, karena tertutup oleh gemparnya pemberitaan tentang pelantikan presiden terpilih Jokowi-Ma’ruf masa abdi 2019-2024. Apakah ini berhubungan?
Peristiwa bencana alam terus menerus terjadi begitu saja. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya bencana alam. Banyak ilmuwan yang berpendapat bahwa  bencana yang sering terjadi di Indonesia merupakan dampak dari letak geografisnya yang menjadikan Negara Indonesia rawan terjadi gempa bumi. Banyaknya gunung berapi yang menyebabkan rawan terjadinya gunung meletus. Perairan yang luas menyebabkan rawan terjadinya tsunami, serta kondisi masyarakatnya yang kurang sadar akan kehidupan dengan lingkungan sehingga banyak terjadi kebakaran hutan, banjir, tanah longsor dan masih banyak lagi.
Selanjutnya, bisa disebut apakah bencana yang silih berganti datang?  Masih pantaskah kita menyebut ini sebagai ujian di antara kemaksiatan dan perbuatan manusianya yang melakukan banyak kerusakan. Dan apakah ini semua benar-benar azab yang di turunkan oleh Allah untuk menegur hambanya yang mulai lalai dalam segala hal?
Berbagai macam ujian, musibah dan bencana yang melanda negeri ini banyak terjadi karena kesalahan manusia itu sendiri. Mereka banyak melakukan maksiat terhadap Allah dan Rasul. Selain itu banyak orang-orang yang dipercaya memimpin untuk mewakili suara rakyat justru berperilaku dzolim terhadap rakyat.
 “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud : 117)
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah tidak akan membinasakan suatu Negara apabila rakyatnya patuh dan taat kepada perintah Allah. Lain halnya jika rakyatnya mulai lalai dan meninggalkan perintah Allah. Seperti halnya kaum Nabi Luth yang di tenggelamkan karena perbuatan maksiatnya (LGBT).
Itulah perkara-perkara yang menyebabkan suatu negeri mengalami kekacauan,kehancuran, kesempitan perpecahan antara rakyat dan pemimpin serta rakyat dengan rakyat. Korupsi dan ketidak adilan merajalela. Segala macam penyakit muncul menimpa manusia yang benar-benar menyulitkan kehidupan manusia.
Maka dari itu, seharusnya mulai sekarang menyadari sendiri apa yang telah dilakukan. Tidak hanya selalu menuntu keadilan, akan tetapi berusaha pula menunaikan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Dengan hal-hal kecil tersebut jika dilakukan dengan ikhlas maka akan mendapatkan ridho dari Allah sehingga negeri ini mendapatkan rahmat yang berlimpah. Bukan lagi bencana yang terus menerus terjadi.


Jumat, 27 September 2019

Peran Teknologi Sebagai Penunjang Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0


Saat ini, dunia tengah memasuki era revolusi industri 4.0. atau revolusi industri dunia ke-empat dimana teknologi telah menjadi sesuatu yang tidak dapat di lepaskan dalam kehidupan manusia. Segala hal menjadi  tidak terbatas akibat perkembangan internet dan teknologi digital. Era ini telah mempengaruhi banyak aspek kehidupan terutama dalam bidang pendidikan.

Dalam ranah pendidikan, Pendidikan 4.0 merupakan istilah umum yang digunakan oleh para ahli teori pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Ini adalah lompatan dari pendidikan 3.0 yang mencakup pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan, menggunakan teknologi digital dan mobile berbasis web, termasuk aplikasi, perangkat keras dan perangkat lunak dan hal lain dengan E di depannya.

Pendidikan 4.0 adalah fenomena yang merespon kebutuhan revolusi industri keempat dimana manusia dan mesin di selaraskan untuk mendapatkan solusi, memecahkan masalah dan tentu saja menemukan kemungkinan inovasi baru. Pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, menyesuaikan kurikulum pendidikan dengan tantangan dan kebutuhan pada era sekarang ini. Kurikulum yang membuka akses bagi generasi milenial mendapatkan ilmu dan pelatihan untuk menjadi pekerja yang kompetitif dan produktif.
Berbicara masalah revolusi industri 4.0 dan kaitannya dengan pendidikan  tentu saja dunia pendidikan adalah hal yang utama dan sentral untuk mengikuti arus revolusi industri ini karena akan mencetak dan menghasilkan generasi-generasi berkualitas yang akan mengisi revolusi industri 4.0. Pendidikan di era revolusi industri 4.0 berupa perubahan dari cara belajar, pola berpikir serta cara bertindak para peserta didik dalam mengembangkan inovasi kreatif berbagai bidang.
Revolusi industri 4.0 telah merubah berbagai aspek kehidupan terutama dalam bidang pendidikan. Tidak bisa di pungkiri bahwa teknologi multimedialah yang saat ini mampu menarik perhatian lebih dari siswa daripada pembelajaran dengan metode klasikal yang cenderung kuno. Hal tersebut karena dapat mengintegrasikan teks, grafik, animasi, audio dan video. Multimedia telah mengembangkan proses pengajaran dan pembelajaran ke arah yang lebih dinamik.

Dengan berkembangnya teknologi multimedia, unsur-unsur video,bunyi, teks dan grafik dapat dikemas menjadi satu melalui Pembelajaran Berbasis Komputer (PBK). Sekarang ini, materi PBM telah banyak ditemukan di pasaran baik berbentuk CD ataupun DVD. Di tambah lagi dengan semakin berkembang pesatnya internet yang membuat segalanya semakin tidak terbatas. Kondisi yang perlu didukung oleh internet berkaitan dengan strategi pembelajaran yang akan dikembangkan, yaitu sebagai kegiatan komunikasi yang dilakukan untuk mengajak siswa dalam memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan dalam rangka mengerjakan tugas-tugas tersebut. (Boettcher, 1999).

Teknologi seakan menjadi nyawa dalam pendidikan di era ini karena tanpa teknologi, pendidik telah tergantikan oleh robot. Dengan seperti itu, di kembangkanlah berbagai media pembelajaran dengan berbasis teknologi yang biasa di sebut E-Learning. E-learning adalah sistem pembelajaran yang memanfaatkan media elektronik sebagai alat untuk membantu kegiatan pembelajaran.(Daryanto, 2010). Pada program ini pihak sekolah atau penyelenggara pendidikan menyediakan sebuah situs  / web e-learning yang menyediakan bahan belajar secara lengkap, baik yang bersifat interaktif maupun non interaktif. Kegiatan siswa dalam mengakses bahan belajar melalui e-learning dapat di deteksi apa yang mereka pelajari, bagaimana kemajuan belajarnya,  berapa skor hasil belajarnya.

Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, Indonesia harus segera berbenah dan melakukan banyak inovasi khususnya dalam bidang pendidikan. Beberapa inovasi yang dapat dilakukan ialah dengan menggalakkan teknologi informasi sebagai media pembelajaran seperti teknologi multimedia dan e – learning. Memang tidak semua guru paham dan mengerti tentang perkembangan teknologi tersebut maka dari itu di butuhkan peran pepmerintah dalam mensosialisasikan apa saja yang di butuhkan guru untuk menghadapi revolusi industri 4.0


Minggu, 15 September 2019

Sejatine Manungso Urip



Sejatine manungso urip iku songko hayang hayange dewe , yoiku atine kang manunggal dening Gusti Allah kang Maha Tunggal. Kewibawaan seorang hidup itu dari perilakunya sendiri, jika perilakunya sendiri adalah hangkara murka mongko hayang hayange yoiku rosone atine teleng ing gesang inggih meniko bakal sengsoro ono ing neroko. Lan sebaliknya dikala orang ini hidupnya dalam kesempurnaan batin yaitu insan kamil maka hatinya senantiasa di hiasi dengan pesona yang indah dalam dekapan jannah.

Ajine manungso urip iku songko hayang hayange dewe, matine kang manunggal deneng Gusti Allah kang Tunggal. Yo rasa ilmune wong iku tatkala mangucap lafad suci kalimat tauhid Lailahaillallah Muhammad Rasullullah. Ora iso  manjing ing rasane ora biso nginep ing griya. Owalah ngger  kabeh siro anak putu adam mugo siro dadi manungso sejati sejatine manungso.  Manungso sejati kateges biso mbedaaken sifat iro tumrap jalmo liyo lan rojo koyo, tumrap  manungso lan hayawan. Yen dadi manungso sejati iku yo biso milah yo biso milih. Ananging ora biso milehake. Bisoho ngakoni salah kendel rumongso salah.

Sing di arani wong sakti iku dulur, eleng eleng. eleng dengan kata kata indah ini. Sing di arani wong sakti iku dulur Wong kang sabar ngalah. Ojok bekiteten atine, ojok ngamuk an, seng ajer seng ajer. Sejatine manungso iku kateges manunggaling roso. Roso sejati sejatine roso. Roso cipto ciptone roso senajan kang moho kuwoso kawedar kelawan biyung lan bopo. Nandar ben sukmo kelawan bungkus badan iro. Sejatine rupo iku piningit ono ing ati,sak lebete ati lan ono ing lebet yoiku ono ing jerone ati melbet wonten sisihe ati jerone ati yoiku teleng e Qolbi. Lelakune batin iku dumunung ono ing sukmo melbet wonten dar siroo ruh.

Eleng, lelampahane sukmo meniko wonten ono ing saklebete roso kang cecambeneng dadi sawiji, nyawiji dados sak temene dzat. Ilingo dulur. Urip iki ibarate wayang, kadang di puji yokadang di uji. Yo kadang di keplek pkeplekno ono ing duwure panggung. Damare yoiku rembulan lan srengenge. Ten mriku wonten kelir  minongko alam ben awung awung sing nyonggo tanah cipto. Wonten mriku wonten debok yoiku bumi kang kateges kanggo ngadekno wayang yoiku bumi. Dalange yoiku kang murgeng dumadi yoiku jragan alam. Mlaku sak mlaku obah sak polah di obahno dalange. Yen wis mari purno lakoni, wayang dilebokno kotak dalange. Lelakone yoiku pramiksani.

Dulur, manungso iku sejatine mayit kang lumampah ing duwure bumi. Di lampahke pengerane. Milo dulur, wayang iku embane hayang hayang. Wayang iku embane wetone ayang ayang. Mongko ajine manungso urip iku songko ayang ayange dewe. Atine kang manunggal dening gusti Allah kang tunggal. Ojo wedi karo sopo sopo, wediho karo seng gawe sopo sopo.


Sabtu, 14 September 2019

Hidup untuk Belajar


      Pendidikan merupakan proses menggali dan menumbuhkan potensi dalam diri. Dalam kehidupan, suatu pendidikan sangat perlu dijalankan untuk mengetahui seberapa besar potensi yang dimiliki siswa pelajar ataupun mahasiswa. Untuk mengetahui potensi dalam diri peserta didik, maka perlu sebuah proses yaitu menggali setiap potensi yang dimiliki setiap peserta didik menggunakan pendidikan. Dan dengan pendidikan tersebut kita bisa menilai seberapa besar potensi dalam diri seseorang dan apakah seseoang tersebut berpotensi lebih dalam dirinya.
     Suatu potensi dalam diri seseorang tidak akan berkembang jika tidak didampingi atau diarahkan dengan bantuan atau fasilitas. Dan salah satu fasilitas adalah pendidikan. Dalam pernyataan sebelumnya, dengan pendidikan potensi-potensi dalam diri seseorang akan tersalurkan dan berkembang, jadi potensi yang dimiliki tidak hanya jalan di tempat.
    Proses pendidikan tidak akan bisa berjalan tanpa adanya kemauan untuk melakukan budaya belajar. Seperti yang di lakukan oleh Ibnu Sina yang di usia 10 tahun telah mampu menghafalkan Al Quran. Dan di usia remaja ia telah mampu melakukan berbagai hal hebat di antaranya tidak hanya belajar tentang teori kedokteran, akan tetapi juga menemukan metode baru pengobatan.
    Peserta didik seharusnya dapat mencontoh apa yang dilakukan oleh Ibnu Sina bukan tentang perjalanan yang mulus, akan tetapi tentang pasang surutnya perjuangan untuk mendapatkan ilmu. Sebagai seorang remaja, dia sangat bingung dengan teori Metafisika Aristoteles, yang ia tidak bisa mengerti sampai dia membaca komentar al-Farabi pada pekerjaan. Untuk tahun berikutnya, ia belajar filsafat, di mana ia bertemu lebih besar rintangan. Pada saat-saat seperti ini, dia akan meninggalkan buku-bukunya, melakukan wudhu, kemudian pergi ke masjid dan terus berdoa sampai hidayah menyelesaikan kesulitan-kesulitannya. Jauh malam, ia akan melanjutkan studi dan bahkan dalam mimpinya masalah akan mengejar dia dan memberikan solusinya. Empat puluh kali, dikatakan, dia membaca Metaphysics dari Aristoteles, sampai kata-kata itu dicantumkan pada ingatannya; tetapi artinya tak jelas, sampai suatu hari mereka menemukan pencerahan, dari uraian singkat oleh Farabi, yang dibelinya di sebuah toko buku seharga kurang dari tiga dirham. Begitu besar kegembiraannya atas penemuannya itu, yang dibuat dengan bantuan sebuah karya dari yang telah diperkirakan hanya misteri, bahwa ia bergegas untuk kembali, berterima kasih kepada Tuhan dan diberikan sedekah atas orang miskin.
    Ibnu Sina berani mencoba dan terus mencoba dan memang seperti itulah kewajiban sebagai seorang muslim untuk selalu belajar, belajar dan belajar. Seperti dalam hadist Rosululloh “Tholabul ‘ilmi minal mahdi ila lahdi” yang artinya menuntut ilmu dari kandungan sampai mati. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya  belajar dan yang terpenting hidup untuk belajar dan menggapai ridho Allah dengan belajar.

Sabtu, 24 November 2018

Dia


Tempias rindu perlahan menyeruak
Memberi setitik jarak dalam jiwa
Asa yang tertata untuk bekal sebuah masa
Seketika sirna
Tanpa dia....
Rinik sendu di ujung senja
Berubah tawa lebayung sutra
Saat deburan ombak di iringi sapa ramah batu karang
Menyambut kedatangannya
Dialah pengukir mimpi
Yang mengajari bagaimana terbang di antara awan
Mengajari untuk menjadi kuat sekokoh batu karang
Mengajari untuk menjadi indah seindah purnama
Dialah senja yang hangatnya selalu di rindukan setiap jiwa
Dialah lautan dengan segala isinya
Yang berikan kehidupan pada semua insan
Tidak ada kata yang mampu lukiskan
Atas kebesaran hati dan jiwanya
Nama dan baktinya akan selalu membekas
Meskipun ia telah bersenja
Guru....
Cintaku...
Citaku....

Makan rambutan warna merah
Pilih yang harum baunya
Perjuangan tumpah darah
Cintailah indonesia merdeka
Pergi ke padang menari saman
Indah gerak tangan dan jari
Indonesia penuh keragaman
Lestarikanlah potensi negeri
Air tumpah masuk bejana
gemericik air timbulkann suara
Berjuanglah mencapai cita-cita
Demi mengharumkan nama negara
Makan mie ayam pakai sawi
Makan-makan dengan santai
Keharusan menjadi manusiawi
Jadilah rakyat yang cinta damai
Ke kebun binatang melihat hewan
Ada satu namanya rusa
Demi menjaga persatuan
Mintalah restu Tuhan yang Esa
Ke puncak gunung naik sepeda
Nikmati alam yang mempesona
Belajarlah di usia muda
Kelak tua kau kan berguna

Pergi ke pasar membeli jamu
Tidaklah lupa membeli buku
Jikalah engkau ingin berilmu
Rajinlah engkau membaca buku

Ke pasar batu membeli jamu
Jamu di beli di berikan tamu
Jikalah engkau ingin berilmu
Jadikan buku sebagai tamanmu

Rabu sore memotong kuku
Kukunya jatuh terkena siku
Menjadi guru adalah jalanku
Guru pejuang moto hidupku

Malam-malam  pergi ke malang
Malang terang nampak rembulan
Sedang apa kalian sekarang
Nampak risau tidak karuan

Malam minggu pergi ke tuban
Pergi ke tuban membeli nasi
Sedang apa kalian sekarang
Sudahkah siap memotivasi

Ke kebun binatang melihat buaya
Buaya bingung malu bertanya
Siapakah nama bapak saya
Jika tahu apa jawabnya

Alam Yaumi



Rabu, 24 Oktober 2018

Dia

Teruntuk dia yang kini entah kemana
Aku pernah tertawa karena dia
Pernah menangis karena dia
Pernah bahagia karena dia
Bahkan pernah kecewa karena dia

Mencubit ingatan pada sebuah masa
Saat bahagia berbagi es krim bersama
Saat bertengkar hanya karena telat memberi kabar
Saat apa lagi ya?...
Oh iya, lari pagi bersama, terkantuk kantuk menunggu dia
hihihi...

Hmmmm...
Lucu memang, setiap perasaan tak bisa tergambarkan
Lewat lisan ataupun untaian tulisan
Setiap detik terasa sangat berkesan

Ihh alay ya...
Ya itulah dia
dia yang kini pergi jauh entah kemana

Arizza Nanda Fadhilla

Kisah Sendu Garudaku

Garudaku yang gagah perkasa, tak lagi mampu busungkan dada
perisai utamanya di runtuhkan oleh ateis ateis najis
di temani tikus-tikus terhormat yang sembunyi di balik simpul dasi
yang memutus kokohnya rantai pengikat negeri

Memang lucu negeriku, tak hanya sang Garuda
bahkan Banteng yang gagah perkasa di patahkan tanduknya
Dengan menebar isu sara, provokasi antar umat beragama 
hanya satu tujuannya, Politik yang membuat rakyat semakin tercekik

Kembali ke Garuda yang semakin tak berdaya
Kini ia malah tak mampu mengepakkan sayapnya 
Melihat anggota dewan duduk manis, tanpa peduli nasib rakyat yang semakin tragis
Duduk tertunduk meneteskan iler iler amis.

Dan sekarang aku semakin tak tega melihat  sang Garuda
Ia telah kehilangan cakar tajamnya
Cakar tajamnya di curi tikus berjas rapi yang dihiasi simpul dasi 
Si tikus gunakan untuk robohkan beringin keadilan 
Menghunus ke bawah menumpas habis rakyat lemah 
Menambah otoritas orang besar dan miliki pangkat jabatan
Oh sungguh malang Garudaku


Surabaya, 24 Oktober 2018 

Minggu, 21 Oktober 2018

Miskinkan Koruptor



Hukuman bagi para koruptor di Indonesia sangat tidak sebanding dengan uang yang telah dikorupsi. Perlu ada inovasi jenis hukuman sebagai efek jera terhadap perampok uang rakyat tersebut. Tujuannya satu yaitu agar keuangan negara bisa dipulihkan.
Menghukum koruptor dengan hukuman penjara dinilai masih belum maksimal untuk memberikan efek jera bagi para koruptor. Mereka masih sangat bebas apalagi dengan campur tangan orang dalam. Mereka seakan tidak ambil pusing dengan ancaman hukuman yang di beerikan.
Inilah yang membuat koruptor di indonesia tidak pernah takut untuk korupsi. Koruptor seharusnya di miskinkan sesuai dengan kerugian negara. Sayangnya belum ada undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut. Misalnya merugikan negara sebesar 20M, maka aset pribadi sang koruptor harus di lelang senilai 20M dan wajib mengembalikan segala keuntungan hasil korupsi. Dengan begitu dapat di pastikan bisa memberi efek jera pada koruptor dan tidak mungkin mendapat fasilitas sedemikian rupa di dalam sel tahanan.